__temp__ __location__
`
Kodim 0704 Banjarnegara dan Perhutani Jaga Napas Hutan

Kodim 0704 Banjarnegara dan Perhutani Jaga Napas Hutan

Kodim 0704 Banjarnegara dan Perhutani Jaga Napas Hutan

Banjarnegara - Kodim 0704/Banjarnegara bersama Perhutani KPH Banyumas Timur melaksanakan patroli kawasan hutan di Desa Jatilawang, Kecamatan Wanayasa. Dalam kegiatan yang digelar pada Selasa (30/7) itu, tim menyusuri jalur-jalur hutan yang kini kian tergerus. Pemandangan yang mereka temukan sungguh memprihatinkan ratusan hektare kawasan hutan telah beralih fungsi menjadi ladang pertanian. Langkah sigap pun segera diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan yang kian terancam.

 

Pemandangan itu tak sekadar menggambarkan kerusakan alam, namun juga menyuarakan darurat lingkungan yang tengah mengintai Banjarnegara. Komandan Kodim 0704/Banjarnegara, Letkol CZI Teguh Prasetyanto, dengan nada serius menegaskan pentingnya kesadaran semua pihak untuk menghentikan perambahan.

 

“Ini sangat memprihatinkan dan butuh kesadaran bersama. Jangan sampai kerusakan ini semakin meluas. Hutan adalah warisan penting bagi generasi mendatang,” ujarnya, Rabu (31/7).

 

Patroli tidak hanya berakhir dengan pengawasan. Kodim dan Perhutani juga memasang spanduk larangan perambahan hutan dan melakukan edukasi langsung kepada warga, mengingatkan dampak nyata dari kerusakan lingkungan: banjir, longsor, hilangnya sumber air, dan penurunan daya dukung ekosistem.

 

Dandim menegaskan bahwa solusi jangka panjang harus dilakukan secara kolektif, bukan hanya reboisasi simbolik. “Melestarikan hutan bukan sekadar menanam, tapi menjaga agar pohon tumbuh, menguat, dan menjadi benteng kehidupan. Kami siap bekerja sama untuk melakukan penghijauan nyata,” tegasnya.

 

Data yang dibagikan Serayu Network, organisasi pegiat lingkungan lokal, memperlihatkan situasi yang lebih mencemaskan. Praktik alih fungsi lahan hutan menjadi kebun sayuran telah menggerus sedikitnya 690 hektare kawasan hutan di lima desa di Kecamatan Wanayasa.

 

Maman Fansha, salah satu relawan Serayu Network, mengungkapkan bahwa kawasan-kawasan seperti Desa Balun (212 ha), Wanaraja (197 ha), Jatilawang (143 ha), Tempuran (129 ha), dan Wanayasa (8,8 ha) kini berada dalam kondisi kritis.

 

“Kerusakan hutan ini telah membawa dampak langsung. Saat hujan deras turun, air tak lagi tertahan di akar pohon, tapi mengalir deras membawa lumpur, menghancurkan jalan dan mengancam pemukiman,” ungkapnya.

 

Dampak lain yang sangat nyata adalah penurunan kapasitas Bendungan Mrica. Dari pemantauan Serayu Network, air bendungan kini hanya tersisa 10 persen, sementara sisanya dipenuhi lumpur dari limpasan erosi hutan gundul.

 

“Kalau tidak segera ditangani, lumpur ini bisa terbawa hingga ke wilayah Banyumas, menyebabkan kerusakan yang lebih luas,” tambah Maman.

 

Sebagian besar lahan yang dirambah diketahui merupakan kawasan hutan negara yang dikelola Perhutani, namun menurut Maman, belum terlihat tindakan tegas untuk mengatasi perambahan ini.

 

“Kita butuh ketegasan dan kehadiran negara. Alih fungsi yang dibiarkan akan menjadi bencana yang disengaja,” tegasnya.

 

Kegiatan patroli gabungan Kodim 0704 dan Perhutani ini menjadi sinyal penting bahwa kolaborasi antarlembaga dan masyarakat harus diperkuat, bukan hanya untuk menindak pelanggaran, tetapi juga membangun kesadaran ekologis di akar rumput.

 

Hutan bukan sekadar hamparan hijau, melainkan sumber air, pengatur iklim, penjaga tanah, dan nafas kehidupan. Jika dirusak hari ini, maka generasi esok hanya akan mewarisi tanah gersang dan bencana.(Pendimbna).

Wahyu Seiawan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *